Hari Ibu dalam Pandangan Islam ala NU: Boleh Diperingati, Jangan Kehilangan Ruh Bakti

Kelas Belajar Tajwid Al-Qur’an

Kelas Belajar Tajwid Al-Qur’an

IDR 30,000

Informasi Lengkap

Oleh: Nurfala, Founder Asyafina

Setiap tanggal 22 Desember, linimasa media sosial di Indonesia selalu dipenuhi ucapan “Selamat Hari Ibu”. Ada yang menuliskannya dengan penuh cinta, ada yang menyertakan foto lama bersama ibu, ada pula yang menyelipkan doa-doa haru. Namun, di sisi lain, tidak sedikit pula yang bertanya: “Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang Hari Ibu?” Apakah ini sekadar tradisi Barat? Ataukah justru bisa sejalan dengan nilai-nilai Islam? Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini sering dijawab dengan pendekatan Islam moderat yang selama ini dijaga oleh Nahdlatul Ulama (NU). NU tidak tergesa-gesa mengharamkan, tapi juga tidak sembarangan membolehkan. Pendekatannya khas: melihat substansi, maslahat, dan konteks sosial.

Islam dan Kemuliaan Ibu: Tidak Pernah Musiman

Dalam Islam, kedudukan ibu sudah sangat mulia, bahkan jauh sebelum ada istilah “Hari Ibu”. Al-Qur’an menggambarkan beratnya perjuangan seorang ibu sejak mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Rasulullah ﷺ pun menegaskan bahwa ibu adalah manusia yang paling berhak mendapatkan bakti, bahkan disebut tiga kali sebelum ayah. Pesan ini jelas:

  • 👉 Islam tidak menjadikan bakti kepada ibu sebagai agenda tahunan.
  • 👉 Ia adalah kewajiban seumur hidup, dalam kondisi lapang maupun sempit.

Maka, diskusi tentang Hari Ibu dalam Islam bukan soal perlu atau tidaknya memuliakan ibu, tetapi soal bagaimana memaknai peringatan itu.

Kerangka Fikih NU: Adat Bisa Bernilai Kebaikan

NU memandang persoalan Hari Ibu melalui kaidah fikih yang sangat fundamental: Al-ashlu fil ‘adah al-ibahah. Hukum asal adat dan kebiasaan adalah boleh. Artinya, tidak semua hal yang tidak ada di zaman Nabi otomatis haram. Selama ia:

  • Bukan ibadah khusus
  • Tidak diyakini sebagai bagian dari ritual agama
  • Tidak bertentangan dengan syariat
  • Mengandung nilai maslahat

Maka ia boleh dilakukan. Dalam kerangka ini, Hari Ibu dipahami NU sebagai adat sosial, bukan hari raya Islam dan bukan ibadah. Ia berada di wilayah budaya, bukan akidah.

Sikap NU: Boleh, Tapi Tidak Diwajibkan

NU mengambil posisi tengah dan tenang:

  • ❌ Hari Ibu bukan kewajiban agama
  • ❌ Tidak merayakannya bukan dosa
  • ✅ Memperingatinya boleh, jika diniatkan sebagai penghormatan dan pengingat

Hari Ibu bisa menjadi momentum refleksi sosial, terutama di tengah kehidupan modern yang sering menjauhkan anak dari orang tua—baik secara fisik maupun emosional.

Kritik NU: Jangan Reduksi Bakti Jadi Seremonial

Meski membolehkan, NU juga mengajukan kritik keras terhadap cara sebagian orang memaknai Hari Ibu. Masalahnya bukan pada peringatannya, tapi pada reduksi makna bakti. Bakti kepada ibu tidak cukup dengan:

  • Satu unggahan Instagram
  • Hadiah setahun sekali
  • Ucapan manis tanpa perubahan sikap

Dalam tradisi keilmuan NU, birrul walidain justru diuji dalam hal-hal yang sunyi dan berat:

  • Merawat ibu yang sakit dan renta
  • Bersabar menghadapi omelan dan kelemahannya
  • Menjaga adab bicara
  • Menyediakan waktu, tenaga, dan biaya
  • Terus mendoakan, bahkan setelah wafat

Jika Hari Ibu hanya berhenti pada simbol, maka ruh Islamnya hilang.

Tradisi NU: Substansi Lebih Penting dari Asal-usul

NU sejak lama dikenal tidak kaku dalam menyikapi tradisi. Banyak amalan sosial-keagamaan dipertahankan bukan karena “asalnya dari mana”, tetapi karena manfaat dan maknanya. Hari Ibu pun ditempatkan dalam logika yang sama:

  • Jika membuat anak lebih sadar akan jasa ibu → positif
  • Jika menghidupkan nilai kasih sayang dan tanggung jawab → maslahat
  • Jika hanya formalitas → tidak bernilai ibadah

Hari Ibu dalam Bingkai Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Pendekatan NU mencerminkan wajah Islam yang membumi dan penuh kasih. Islam tidak datang untuk memutus tradisi sosial yang baik, tetapi mengisinya dengan nilai tauhid, adab, dan tanggung jawab. Karena itu, NU tidak sibuk memperdebatkan tanggalnya, tetapi mengingatkan esensinya:

  • Setiap hari adalah Hari Ibu, jika bakti benar-benar hidup dalam keseharian.

Kesimpulan

Dalam pandangan Islam ala NU:

  • Hari Ibu boleh diperingati sebagai adat
  • Tidak memiliki status ibadah atau hari raya
  • Tidak wajib dan tidak mengikat
  • Tidak boleh menggantikan kewajiban birrul walidain
  • Hari Ibu hanyalah pengingat sosial
  • Bakti kepada ibu adalah kewajiban spiritual sepanjang hayat

FAQ: Hari Ibu dalam Pandangan Islam ala NU

  1. Apakah memperingati Hari Ibu termasuk bid’ah? Tidak otomatis. Menurut NU, Hari Ibu bukan ibadah, melainkan adat sosial. Selama tidak diyakini sebagai ritual agama, maka tidak termasuk bid’ah tercela.
  2. Apakah Hari Ibu dianggap hari raya dalam Islam? Bukan. Islam hanya menetapkan dua hari raya. Hari Ibu tidak memiliki kedudukan keagamaan seperti Idulfitri atau Iduladha.
  3. Bagaimana hukum merayakan Hari Ibu menurut NU? Mubah (boleh) dengan syarat: Tidak diyakini sebagai ibadah Tidak melanggar syariat Tidak berlebihan Mengandung nilai kebaikan
  4. Apakah memberi hadiah atau ucapan di Hari Ibu diperbolehkan? Boleh dan baik. Memberi hadiah, mendoakan, dan berterima kasih kepada ibu adalah amal saleh—baik dilakukan kapan pun.
  5. Jika tidak merayakan Hari Ibu, apakah berdosa? Tidak. Tidak merayakan Hari Ibu tidak melanggar syariat, selama kewajiban berbakti tetap dijalankan.
  6. Apa yang dikritik NU dari peringatan Hari Ibu? NU mengkritik jika: Bakti direduksi jadi simbol Ramai satu hari, lalai setahun Ucapan manis tanpa tanggung jawab nyata
  7. Apakah Hari Ibu bisa bernilai ibadah? Bisa bernilai pahala, jika diisi dengan: Niat ikhlas Perbuatan baik Doa kepada ibu Namun, statusnya tetap bukan ibadah khusus.
  8. Kesimpulan akhir sikap NU? 👉 Boleh diperingati 👉 Tidak wajib 👉 Tidak diagungkan 👉 Jangan sampai melupakan bakti sehari-hari Dalam Islam ala NU, Hari Ibu hanyalah pengingat. Bakti kepada ibu adalah jalan hidup.

Ingin Belajar Lebih Dalam & Terstruktur?

Bergabunglah dengan ekosistem belajar Asyafina dan kembangkan potensi Anda bersama komunitas kami.

✨ Lihat Detail Kelas & Gabung Sekarang

Related Articles

Responses

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Click here to login or register